Selamat datang di UPK SINDANG MAJALENGKA
SELAMAT DATANG DI MEDIA CENTER UPK DAPM SAUYUNAN KECAMATAN SINDANG KABUPATEN MAJALENGKA"- DARI OLEH UNTUK MASYARAKAT - MAJU BERSAMA KAMI

MITOS KELOMPOK

Minggu, 30 Desember 20120 komentar


Penyaluran SPP, UPK Sindang
Istilah kelompok dalam kamus PNPM-MPd sudah tidak asing lagi. Familiar sekali perkataan: “UPK akan menyalurkan dana pada Kelompok ataupun pembinaan ke Kelompok”. Kelompok disini adalah sekumpulan orang yang bersepakat dan bekerjasama membangun sumber pelayanan keuangan dengan tujuan ingin meningkatkan usaha produktif dan perekonomian seluruh anggotanya beserta keluarganya. Tentunya di PNPM-MPd Kelompok tersebut terbagi kepada dua jenis yaitu Kelompok Simpan Pinjam Khusus Perempuan (SPP) dan Usaha Ekonomi Produktif (UEP).

Bermula pada tahun 2009, UPK Kecamatan Sindang mendapatkan amanah untuk mengelola Dana BLM yang diperuntukkan untuk SPP. Dana awal tersebut terserap sebesar Rp. 354.000.000. Sampai tahun 2012, UPK Sindang sudah melakukan perguliran sebanyak 8 kali dengan dana total yang digulirkan sebesar Rp. 2.612.000.000. Terdiri dari perguliran tahun 2011 sebesar Rp. 997.000.000 dengan 69 kelompok pemanfaat dan pada tahun 2012 sebesar Rp. 1.615.000.000 dengan 98 kelompok pemanfaat. Eskalasi tersebut dapat dibilang membanggakan sekali dilihat dari usia UPK Kecamatan Sindang yang baru seumur jagung.
Meskipun demikian, tidaklah hal tersebut seiring sejalan dengan perkembangan kelompok. Setidaknya ketika saya sebagai Fasilitator Kecamatan masuk pada tahun 2010 sampai dengan sekarang tahun 2012. Banyak sekali permasalahan terkait kelompok mulai dari kemacetan, pertengkaran dalam kelompok, penyelewengan oleh pengurus kelompok sampai permasalahan “Mitos Kelompok”. Walaupun begitu, apresiasi juga diberikan pada pengurus UPK Kecamatan Sindang, Kelembagaan (BKAD, BUPK, TV Perguliran) serta KPMD Pemberdayaan dalam pembinaan kelompok yang sinergis serta pencapaian perkembangan kelompok yang hampir 90% termasuk Kelompok Berkembang.
Ketertarikan saya kali ini tertuju pada Mitos Kelompok. Sebenarnya tidak ada dalam literatur PNPM-MPd terkait Mitos Kelompok ini. Istilah tersebut sengaja saya buat terkait hal-hal yang tidak termasuk kategori Permasalahan Kelompok sesuai PTO. Setidaknya menurut saya hal ini nyata ada di setiap kelompok.
Sebagai awal titik masuk saya dalam pembinaan kelompok adalah ketika verifikasi kelompok. Ketika diverifikasi oleh TV Perguliran, selalu tercetus “yang penting mah lancar pak” atau “urang mah tos ibu-ibu tong disuruh ngisian pembukuanlah lieur” bahkan “abdi mah isin ditempel spanduk kelompak ngaraos ngutang ka UPK”perkataan tersebut terlontar baik dari kelompok baru ataupun lama. Sontak hati terkejut sekaligus sedih kenapa sampai terlontar perkataan tersebut. Beranjak dari kejadian tersebut, evaluasi dan pembinaan kelompok kedepannya menjadi agenda yang serius dan perlu diluruskan.
Sebenarnya UPK Kecamatan Sindang dan Kelembagaan rutin membina kelompok sesuai pakem prosedur PTO dan SOP Kelompok, akan tetapi tidak serta merta membuat kelompok mengikuti aturan main tersebut. Menurut asumsi saya, pembinaan konvensional tersebut hanyalah menyentuh permukaannya saja, tetapi belum menyentuh dan mengubah pendirian alam bawah sadar kelompok. Hal ini terkait dengan setidaknya tiga (3) mitos tersebut.
Pertama, perkataan “yang penting mah lancar pak” perlu diluruskan kembali. Kita jangan terlena dengan perkataan tersebut. Bagi kelompok yang berpendapat demikian memang bagus, tetapi hanya bersifat jangka pendek saja. Sebab ini menyiratkan kelompok beserta anggotanya menuju penghalalan segala cara dan sekaligus mengajarkan tindakan yang tidak bertanggungjawab.
Menanggapi soal ini, cerita “Ayam mengerami telur” cocok untuk sampaikan; “Alkisah ada seekor ayam betina yang sedang mengerami telurnya, ternyata dari tiga telur tersebut dua diantaranya menjadi anak ayam, tetapi satu lainnya menjadi ular. Ternyata dua selalu dierami, tetapi yang satunya tidak bahkan dimakan oleh ular kecil. Anak ayam pasti mengikuti induknya, tetapi ular sebaliknya bisa mematuk atau bahkan memakannya”. Hal ini juga berkaitan erat dengan kondisi kelompok apabila pengurus kelompok tidak bisa mengatur, memahami permasalahan anggota bahkan membiarkannya maka lambat laun masalah pasti akan muncul dari anggota kelompoknya sendiri.
Kedua, perkataan “urang mah tos ibu-ibu tong disuruh ngisian pembukuanlah lieur” menjadi bumerang bagi kita sendiri. Tindakan awal yang perlu dilakukan diantaranya pastikan jumlah dan usia kelompok tersebut. Kebanyakan kategori kelompok tersebut mempunyai anggota yang berusia sekitar 35 – 55 an. Tekankan bahwa pembukuan hanyalah berupa catatan-catatan yang sederhana dan tidak menyita waktu kelompok bahkan seperti halnya catatan pemasukan dan pengeluaran ibu-ibu sehari-hari. Selain itu, dipastikan juga yang menjadi bendahara dipilih berdasarkan usia yang lebih muda.
Cerita “Idola saya adalah Soekarno bukan Bapak saya” selalu disampaikan kepada kategori kelompok ini: “Bahwa idola saya dari dulu adalah Soekarno meskipun belum pernah bertatap muka, tetapi kita mengenalnya melalui catatan dan buku yang tersebar dan terdokumentasikan dengan baik. Apakah saya berdosa karena mengidolakan Soekarno bukan Bapak saya? Sebab tidak ada satupun catatan yang tersisa dan terdokumentasikan dari Bapak saya. Apakah saya bersalah?”
Ketiga, perkataan, “abdi mah isin ditempel spanduk kelompak ngaraos ngutang ka UPK” ini menyiratkan kurangnya kepercayaan diri kelompok bahkan menunjukkan ekspresi malu menjadi nasabah UPK. Usaha kelompok adakalanya maju ataupun mundur, tidak bisa diperkirakan. Bahkan seorang pengusaha besar sekalipun mengalami hal yang sama. Bandingkan saja pengusaha besar saja meminta suntikan dana aliasngutang sampai miliaran bahkan triliunan dan resikonya pun besar. Hal ini sama saja dengan kelompok sebagai pengusaha kecil, tidak harus malu atau kurang pede bila disebut sebagai nasabah UPK. Sebenarnya selama kelompok mempunyai usaha yang jelas dan menerapkan tanggung renteng tidak ada yang harus dikawatirkan. Itulah cerita “Pengusaha vs Kelompok” sebagai jawaban saya ketika berkunjung ke kelompok.
Gambaran besarnya, ada dua (2) poin yang harus mulai dibenahi oleh kita. Pertama, ubahlah gaya bahasa ketika melakukan pembinaan ke kelompok. Alangkah lebih baiknya menggunakan bahasa persuasif (mengajak) bukan menyuruh serta menekankan AMBAK (“apa manfaatnya bagiku”) terlebih dahulu. Hal ini berdampak pada cara berpikir, menanamkan nilai-nilai baru sekaligus mengubahnya melalui tindakan yang nyata. Kedua, ubahlah pola ceramah atau penjelasan yang menjemukan dengan sebuah cerita kiasan. Mengingat kebanyakan kelompok merupakan warga desa yang hampir rata-rata tamatan SD/ SMP.
Best Practice (Sumber : http://mhfadjar.wordpress.com)
Share this article :
 
Copyright © 2011. UPK DAPM SINDANG MAJALENGKA - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile

Proudly powered by Blogger